Blog EntryMang Idin "Pelopor yang paham, yakin dan berani"Apr 17, '07 4:16 AM
for everyone


Catatan Admin:

Sarwono Kusumaatmadja mendatangi lokasi Kelompok Tani Sangga Buana di tepi Kali Pesanggrahan, Minggu, (15/4) yang dipimpin oleh Haji Chaerudin atau yang akrab disapa Mang Idin.

Secara simbolis, Sarwono, ditemani Mang Idin, dan tokoh masyarakat setempat, menanam bibit-bibit pohon di wilayah penghijauan tersebut. Mereka kemudian berjalan santai sepanjang 2km menyusuri sebagian wilayah penghijauan sambil berdialog santai.

Percakapan yang terjadi antara Mang Idin dan Sarwono, yang mantan Menteri Lingkungan Hidup ini, sangat bermakna bahkan meninggalkan catatan tersendiri. Berikut kesan mendalam yang ditulis Sarwono mengenai sosok Mang Idin yang ia hormati. 

 

 

Bang Haji Chaerudin atau Mang Idin adalah orang yang menurut saya istimewa. Selama 15 tahun dia melakukan upaya penyelamatan bantaran Kali Pesanggrahan di Pondok Labu, melalui kelompok tani Sangga Buana. Kedua tepi kali di tempat dia tinggal sekarang rimbun penuh aneka pepohonan, termasuk tanaman obat-obatan dan juga menjadi tempat rekreasi mancing. Padahal, dulunya penuh sampah. Mang Idin melakukan perjuangan menyelamatkan bantaran kali dengan gigih dan dengan menggunakan kearifan tradisional, atau ilmu nenek moyang.

 

Sebenarnya, apa yang Mang Idin dan kawan-kawannya lakukan sesuai dengan aturan tataruang yang menyatakan bahwa bantaran kali tidak boleh dibangun dan harus dipertahankan rona alamnya. Tapi, Mang Idin melakukannya bukan karena aturan negara, tetapi karena keyakinannya bahwa manusia harus hidup serasi dengan alam, karena alam adalah sumber kehidupan. Orang yang tahu aturan tapi tidak paham duduk soalnya akan ikut aturan hanya karena takut dihukum semata-mata. Tidak demikian dengan Mang Idin. Ia melakukannya karena paham duduk persoalannya, walaupun dia tidak tahu persis aturannya.

 

Banyak kata-kata bijak keluar dari Mang Idin dan yang mendengarnya pun menaruh hormat, karena tahu bahwa kata-kata itu adalah buah dari perjuangan yang tidak mudah, memakan waktu, serta lahir dari keyakinan yang kuat. Sulit bagi saya untuk meniru kata-katanya. Musti didengar sendiri.

 

 Akhirnya, pelajaran apa sebenarnya yang dapat kita tarik dari Mang Idin? Tidak lain kecuali bahwa orang bisa punya pengaruh demi kebaikan, bukan karena ia terpelajar tapi karena orang tersebut punya keyakinan yang dipraktekkan, dan paham tentang makna kehidupan dan lingkungan.

 

Karenanya, Mang Idin kemudian menjadi sumber inspirasi dan ilmu bagi banyak orang. Mang Idin bagi saya adalah seorang cendekiawan sekaligus pelopor. Seorang yang paham, yakin, dan karenanya berani.

 

 

 

Untuk Poskolink, Poskota, Edisi Rabu, April 2007


24 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tianarief wrote on Apr 17, '07
mang idin dkk emang top! bukan hanya bantaran sungai yang musti dilestarikan, tapi perilaku seperti mang idin dan kelompok tani sangga buana yang musti dilestarikan. bukan begitu pak cagub? ;)
mryasha wrote on Apr 17, '07
Pak Cagub, bagaimana supaya perilaku Mang Idin dapat dicontoh dan diteladani oleh orang2 lain?
d3nyeki wrote on Apr 17, '07
*lagi membayangkan: "seandainya ada saja beberapa orang yang seperti mang Idin, pasti..."
decyca wrote on Apr 17, '07
Ini baru Bang Jampang beneran putra betawi asli...
nyang cinta betawi, cuma kumisnya musti ditebelin dikit tuch Mang.
Salut dech ma Mang Idin tooop abis
dessysetyawati wrote on Apr 17, '07
Salut buat Mang Idin. Keberanian untuk bergerak melakukan penghijauan di bantaran sungai disaat orang lain cuek dan tidak melakukan apapun (bahkan orang terdidik pun hanya menyuarakan penghijauan penghijauan tapi do nothing). Perjuangan yang panjang bagi Mang Idin sampai pada titik sekarang, top deh...
Andai di Jakarta ada 1000 orang seperti Mang Idin (*mood berkhayal*)
puisisj wrote on Apr 17, '07
maaf pak mo nanya nih..., koq dari gaya tulisannya (sebelum di-italic-kan) sepertinya bukan bapak (pak sarwono) sendiri yang nulis, ini bener mpnya bapak kan ? (dalam arti semua tulisan berasal dari bapak)ato mpnya dikelolah bersama ?
aniadami wrote on Apr 17, '07
wah, masih ada sosok kyk mang idin ya di jakarta?
baksoholic wrote on Apr 17, '07
sptnya memang bukan tulisan pak sar sendiri nih, udah sibuk kampanye kali
chatfly wrote on Apr 17, '07
puisisj said
maaf pak mo nanya nih..., koq dari gaya tulisannya (sebelum di-italic-kan) sepertinya bukan bapak (pak sarwono) sendiri yang nulis, ini bener mpnya bapak kan ? (dalam arti semua tulisan berasal dari bapak)ato mpnya dikelolah bersama ?
loh.. bukannya yang sebelom di italic-kan itu seperti pengantar?? abis itu yang italic baru tulisan pak Sar??.. eh apa begimana sih?? binun..
ah tapii tetep.. yang penting isinya.. setuju Pak Sar.. moga-moga bisa jadi influence yang baik, nambah lagi Mang Idin-mang idin yang lain.. atau mpok.. iyeee pan nyak!!.. hmm.. taneman rumah harus lebih rajin di siram nih hueaheuaheuhauehauheuae...
larassejati wrote on Apr 17, '07
masalahnya banyak bantaran kali yg menjadi tanah pribadi pak. jadi nggak bisa disentuh.
srisariningdiyah wrote on Apr 17, '07
iya, yang nulis sapa ya ini...
srisariningdiyah wrote on Apr 17, '07
btw salut buat mang idin!!!!!
diaz2000 wrote on Apr 18, '07
Udah jarang emang orang kayak Mang idin, bagus buat jadi walikota tuh Bang biar Jakarta gak banjir lagi.
sarwonokusumaatmadja wrote on Apr 18, '07
puisisj said
maaf pak mo nanya nih..., koq dari gaya tulisannya (sebelum di-italic-kan) sepertinya bukan bapak (pak sarwono) sendiri yang nulis, ini bener mpnya bapak kan ? (dalam arti semua tulisan berasal dari bapak)ato mpnya dikelolah bersama ?
Bagian tulisan sebelum di-italic itu berupa pengantar yang ditulis wartawan suratkabar yang memuat catatan saya kemudian yang di-italic baru tulisan saya. Begitu Puisisj's, jadi tidak perlu bingung lagi.
sarwonokusumaatmadja wrote on Apr 18, '07
Udah jarang emang orang kayak Mang idin, bagus buat jadi walikota tuh Bang biar Jakarta gak banjir lagi.
Saya sarankan kalau di antara kalian ada yang punya waktu, bisa coba main ke tempat Mang Idin. Siapapun dia terima. Apalagi kalau mau bantu-bantu dia secara sukarela tanam pohon, bersih-bersih kali, dsb. Tempatnya tidak terlalu susah dicari. Untuk kalian yang masih muda-muda, pasti akan merasakan pengalaman seperti balik ke bangku kuliah. Sangat bermanfaat.
lucilenan wrote on Apr 18, '07
Salut buat mang Idin!!! Kita masih memerlukan banyak orang sepeti mang Idin agar bumi kita berhenti menangis.Terima kasih buat bapak yang telah meluangkan waktu untuk memberhatikan dan mengunjungi mang Idin, dengan begitu kita mengenal mang Idin dan bisa kita jadikan contoh bersama.Menakjubkan dan luar bisa.
bemuslimconr wrote on Apr 21, '07
Wah bahasa tulis Pak Sar bagus bener ya, ... salam hormat buat bapak yang sempat mampir ditempat mang idin, semoga nanti kalau bapak "jadi" tidak lupa anjangsana-sini ke rakyat ya pak. Kami tunggu tulisannnya ... . beMP!
tendri wrote on Apr 22, '07
Tapi, Mang Idin melakukannya bukan karena aturan negara, tetapi karena keyakinannya bahwa manusia harus hidup serasi dengan alam, karena alam adalah sumber kehidupan.
Bapak mengatakan bahwa tulisan yang tidak "italic" adalah tulisan yang disadur dari harian Poskota, lalu yang "italic" adalah yang berasal dari bapak berdasarkan ini:
sarwonokusumaatmadja wrote on Apr 18
"Bagian tulisan sebelum di-italic itu berupa pengantar yang ditulis wartawan suratkabar yang memuat catatan saya kemudian yang di-italic baru tulisan saya. Begitu Puisisj's, jadi tidak perlu bingung lagi."


Ada pertanyaan mengenai tulisan bapak yang saya "quote", bapak mengatakan bahwa Alam adalah sumber kehidupan, apakah ini betul pak ?. Karena setahu saya Tuhan lah sumber kehidupan.

Jadi mana yang benar pak ?, kok saya malah semakin bingung.
tendri wrote on Apr 22, '07
mryasha said
Pak Cagub, bagaimana supaya perilaku Mang Idin dapat dicontoh dan diteladani oleh orang2 lain?
Bagaimana kalau dimulai dengan diri anda sendiri meneladani perilaku Mang Idin ?. Sudah saatnya sikap "Menunggu" orang lain itu dihilangkan.
tendri wrote on Apr 22, '07
Salut buat Mang Idin. Keberanian untuk bergerak melakukan penghijauan di bantaran sungai disaat orang lain cuek dan tidak melakukan apapun (bahkan orang terdidik pun hanya menyuarakan penghijauan penghijauan tapi do nothing). Perjuangan yang panjang bagi Mang Idin sampai pada titik sekarang, top deh...
Andai di Jakarta ada 1000 orang seperti Mang Idin (*mood berkhayal*)
Pertanyaannya sekarang, apakah dessysetyawati termasuk diantara 1000 orang yang dessysetyawati khayalkan ?
sekeon wrote on May 2, '07
Sebenarnya, apa yang Mang Idin dan kawan-kawannya lakukan sesuai dengan aturan tataruang yang menyatakan bahwa bantaran kali tidak boleh dibangun dan harus dipertahankan rona alamnya. Tapi, Mang Idin melakukannya bukan karena aturan negara, tetapi karena keyakinannya bahwa manusia harus hidup serasi dengan alam, karena alam adalah sumber kehidupan. Orang yang tahu aturan tapi tidak paham duduk soalnya akan ikut aturan hanya karena takut dihukum semata-mata. Tidak demikian dengan Mang Idin. Ia melakukannya karena paham duduk persoalannya, walaupun dia tidak tahu persis aturannya.
sy rasa yg membuat "peraturannya" paham dengan maksudnya sehingga bisa juga memberikan konsekwensi perhukumannya pada yg tak mau di atur.
dalam hal ini mang idin walaupun tak tahu peraturannya termasuk beruntung sekali karna maksud baiknya tak bentrokkan pada perhukuman peraturannya.
tapi ini bukan berarti semua individu boleh begitu saja tanpa "peraturan"nya membuat menurut keinginan pribadinya sendiri sebab sy rasa masih banyak lagi penduduk yang berniat baik juga seperti mang udin tapi dengan cara lain yang menurutnya sendiri baik...dan mungkin juga ada yang akan bertentangan dengan peraturannya jika mereka semuanya tak tahu peraturannya.....dan ini akan membuat negri jadi kacau dong jika setiap individu di luar peraturan yang ada./resmi.

fungsi sungai sebenarnya juga bukan jadi tempat rekreasi !
bahaya juga nantinya jika ada orang yang mancing sementara di sebelahnya banyak anak anak yang lagi berenang,apalagi jika ini bisa mengganggu saluran transportasi. dll.
dan untuk menanam pepohonan di pinggir sungai/kali kadang2 jadi repot juga sebab harus juga membersihkan sampah pepohonan ini yang jatuh ke sungai itu seperti daun daunnya ,dll.
selain itu pepohonan di pinggir sungai jika ada air deras tak bisa tahan deras airnya bahkan yang lebih mengkuatirkan jika nanti ada air deras di sungai itu malah pepohonannya yang akan jatuh ke sungai/erosi dan malah menutupi lancarnya lagi yang akan malah mengakibatkan banjir setempat.
sarwonokusumaatmadja wrote on May 8, '07
Nah, untuk itu coba Johny jika ada waktu datanglah ke tempat Mang Idin. Semua yang Johny kemukakan dipikirkan sama Mang Idin karena memang hidup matinya ada di situ. Saya juga belajar banyak dari beliau.
sekeon wrote on May 12, '07
Nah, untuk itu coba Johny jika ada waktu datanglah ke tempat Mang Idin. Semua yang Johny kemukakan dipikirkan sama Mang Idin karena memang hidup matinya ada di situ. Saya juga belajar banyak dari beliau.
aduh...bpk sarwono saya sih mau jenguk sana sini,cuma repotnya sy bukan pejabat ,selain itu jika saya kesana gak ada orang yang nungguin sy...hehehe
nanti deh jika sy mampir ke indonesia mungkin bisa numpang pak sarwono dalam kunjungannya

rikejokanan wrote on Jul 5
orang polos ternyata sumber inspirasi terbesar ya. thanks juga Pak Sar.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help