Catatan Admin:
Sarwono Kusumaatmadja mendatangi lokasi Kelompok Tani Sangga Buana di tepi Kali Pesanggrahan, Minggu, (15/4) yang dipimpin oleh Haji Chaerudin atau yang akrab disapa Mang Idin.
Secara simbolis, Sarwono, ditemani Mang Idin, dan tokoh masyarakat setempat, menanam bibit-bibit pohon di wilayah penghijauan tersebut. Mereka kemudian berjalan santai sepanjang 2km menyusuri sebagian wilayah penghijauan sambil berdialog santai.
Percakapan yang terjadi antara Mang Idin dan Sarwono, yang mantan Menteri Lingkungan Hidup ini, sangat bermakna bahkan meninggalkan catatan tersendiri. Berikut kesan mendalam yang ditulis Sarwono mengenai sosok Mang Idin yang ia hormati.
Bang Haji Chaerudin atau Mang Idin adalah orang yang menurut saya istimewa. Selama 15 tahun dia melakukan upaya penyelamatan bantaran Kali Pesanggrahan di Pondok Labu, melalui kelompok tani Sangga Buana. Kedua tepi kali di tempat dia tinggal sekarang rimbun penuh aneka pepohonan, termasuk tanaman obat-obatan dan juga menjadi tempat rekreasi mancing. Padahal, dulunya penuh sampah. Mang Idin melakukan perjuangan menyelamatkan bantaran kali dengan gigih dan dengan menggunakan kearifan tradisional, atau ilmu nenek moyang.
Sebenarnya, apa yang Mang Idin dan kawan-kawannya lakukan sesuai dengan aturan tataruang yang menyatakan bahwa bantaran kali tidak boleh dibangun dan harus dipertahankan rona alamnya. Tapi, Mang Idin melakukannya bukan karena aturan negara, tetapi karena keyakinannya bahwa manusia harus hidup serasi dengan alam, karena alam adalah sumber kehidupan. Orang yang tahu aturan tapi tidak paham duduk soalnya akan ikut aturan hanya karena takut dihukum semata-mata. Tidak demikian dengan Mang Idin. Ia melakukannya karena paham duduk persoalannya, walaupun dia tidak tahu persis aturannya.
Banyak kata-kata bijak keluar dari Mang Idin dan yang mendengarnya pun menaruh hormat, karena tahu bahwa kata-kata itu adalah buah dari perjuangan yang tidak mudah, memakan waktu, serta lahir dari keyakinan yang kuat. Sulit bagi saya untuk meniru kata-katanya. Musti didengar sendiri.
Akhirnya, pelajaran apa sebenarnya yang dapat kita tarik dari Mang Idin? Tidak lain kecuali bahwa orang bisa punya pengaruh demi kebaikan, bukan karena ia terpelajar tapi karena orang tersebut punya keyakinan yang dipraktekkan, dan paham tentang makna kehidupan dan lingkungan.
Karenanya, Mang Idin kemudian menjadi sumber inspirasi dan ilmu bagi banyak orang. Mang Idin bagi saya adalah seorang cendekiawan sekaligus pelopor. Seorang yang paham, yakin, dan karenanya berani.
Untuk Poskolink, Poskota, Edisi Rabu, April 2007