Ketika saya usia sekolah rendah (istilah untuk sekolah dasar waktu itu), ada pengalaman menarik dan yang menurut saya berperan di dalam membentuk jalan hidup saya. Di rumah orangtua saya di Gang Sentiong, daerah Kramat, tamu-tamu hilir mudik tidak berhenti. Mereka sanak saudara dari Cirebon, Bandung, Garut, Tasik, dan bahkan Jawa Tengah, juga para kenalan dan kawan baik orangtua saya. Persamaan karakter dari beraneka-ragam tamu rumah Sentiong ini terletak pada karakter mereka yaitu orang-orang yang punya kepedulian dan keterlibatan dalam kehidupan sosial termasuk politik.

 

Pada waktu itu di tahun 1950-an, tingkat ‘melek' huruf baru berkisar 30%. Para tamu yang wanita (istilah jaman sekarang perempuan), banyak yang terlibat dalam upaya pemberantasan buta huruf, baik secara perorangan maupun dalam berbagai organisasi. Bahkan saya ingat, pembantu di rumah adalah aktivis yang memberikan pelajaran memasak dan menjahit di waktu luang.

 

Kalau kaum perempuan waktu itu orientasinya ke aktivisme sosial, lain lagi dengan sanak saudara dan sahabat kaum lelaki. Rata-rata mereka adalah fungsionaris partai politik, umumnya di tingkat akar rumput. Ada yang di antaranya anggota Masyumi, NU, PSI, PNI, Partai Murba. Waktu itu sedang ramai dibicarakan krisis pemerintahan parlementer di mana kabinet silih berganti dalam jangka waktu yang cepat. Waktu itu juga menjelang Pemilu 1955 dan Sidang Majelis Konstituante untuk membahas penetapan Undang Undang Dasar.

 

Perdebatannya seru alang-kepalang, seputar ideologi dan bentuk negara. Paham yang hadir di rumah Sentiong bervariasi, mulai dari mereka yang ingin kembali ke UUD 1945, yang menghendaki negara sekuler baik presidensial maupun parlementer, serta paham yang ingin memberlakukan Piagam Jakarta. Almarhum ayah adalah seorang nasionalis nonpartai dan otomatis peran moderator menjadi bagian dia.

 

Walau perdebatannya sengit, suasananya tetap ramah dan hangat. Kesungguhan mempertahankan pendirian bercampur dengan canda tawa. Suasana terbuka dan saling menghargai tetap mewarnai perdebatan antara mereka yang bukanlah orang-orang petinggi partai tapi tingkat akar rumput. Masing-masing membawa oleh-oleh dari daerah biasanya bahan makanan. Semuanya dimasak oleh ibu saya dibantu oleh pembantu dan sanak saudara. Langit-langit dan dinding dapur hitam pekat karena menggunakan kayu bakar.

 

Seringkali sesudah ngobrol sampai larut malam, merokok, dan minum kopi, beberapa orang tidak bisa pergi dan jadinya harus menginap. Saking banyaknya yang datang, tikar pun digelar di ruang tamu dan mereka tidur di situ, tetap bisa nyenyak.

 

Cerita di atas menggambarkan gaya hidup orang-orang yang lazim disebut orang pergerakan, pembicaraan yang didahulukan adalah hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan, ideologi, dan politik. Ada di antara mereka punya pekerjaan tetap, misalnya guru dan karyawan namun ada juga petani. Tetapi, jangan kaget, ada pula yang seluruh hidupnya dicurahkan pada kehidupan gerakan.Mereka dihormati bukan karena pangkat dan kedudukannya tetapi pada hal-hal di luar kepentingan pribadi maupun keluarganya. Rumah tinggal mereka sering berciri rumah bersama, tempat tukar pikiran, tukar gagasan, dan tukar pengalaman. Walau nafkah tidak tentu, ada saja orang-orang yang datang membantu. Anak-anak pun disekolahkan oleh sahabat dan kerabat.

 

Rumah orangtua saya di Sentiong berciri rumah orang pergerakan walaupun tidak setiap hari terjadi apa yang saya ceritakan tadi. Sering juga ada saat-saat lengang yang membawa suasana normal di keluarga, di mana keluarga tetap bisa menjalankan kesehariannya dan menambah keakraban sebagai family.

 

Tetapi pengalaman di mana rumah itu penuh orang amat berkesan dan membekas. Mungkin itu sebabnya ketika saya mulai masuk dunia politik, rekan-rekan anggota DPR yang jauh lebih senior, sering mengatakan “Sarwono, kelakuanmu seperti orang jaman dulu, orang pergerakkan.”


37 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ardiar wrote on Apr 24, '07
Terus semangat yha eyang Sarwono..karna ga bakalan ada orang jaman sekarang kalo ga ada orang jaman dulu yang melaukan pergerakan..hehe iya khan.. thanx for sharing..
Salam kenal dari ardi n diar
tianarief wrote on Apr 24, '07
rupanya semangat berpolitik orangtua pak sarwono menurun ke anaknya. tentu pergerakan di masa lalu dan masa kini berbeda, meski semangatnya tetap sama; melakukan perubahan. :)
kangbayu wrote on Apr 24, '07
semoga semangatnya bisa menular pak, btw sekarang saya tinggal di daerah yang sama, tapi nampaknya iklim dan kebiasaan sudah jauh berubah... =)
baksoholic wrote on Apr 24, '07
orang dulu doyan begadang juga ternyata
donbendino wrote on Apr 24, '07, edited on Apr 24, '07
emang jaman sekarang gak perlu pergerakan ya om,,, hehehe,,,
thanks om for sharing
chornel wrote on Apr 24, '07
Bacanya sambil menghayal ngebayangin keadaan waktu itu..., Thx for sharing Oom.....
bemuslimconr wrote on Apr 24, '07, edited on Apr 24, '07
Ass.wr.wb. Pak Sarwono terimakasih bapak sudah add saya jadi kontak bapak. Mau usul nih pak, photo tempo doloenya gang sentiong mbok yao dipasang di album pak, biar kami bisa ikutan bernostalgis, gitu. pakSarwono. Wass.wr.wb.
beMP!,
Nambah sedikit pak, pejabat setingkat bapak yang memiliki blog semacam ini siapa saja pak, nampaknya jadi deket gitu sama pejabat bisa online, share cerita. Hebat ! Saya suka. beMP!
sepasangmatabola wrote on Apr 24, '07
Hehehe... jadi inget cerita Bapakku dulu tentang marhaenisme. Ceritanya nostalgis banget deh, pak Sarwono! ;)
bemuslimconr wrote on Apr 24, '07
kalau ik sih inget simbahku, cerita jaman rekiplik.... beMP!
nostalgia78 wrote on Apr 24, '07
Pak Sarwono, ungkapkan semua cerita nostalgia kepada yang muda2, mereka sekarang sudah silau, tidak tahu lagi apa yang penting baginya, kemana arahnya. Jadi kissa masa lalu, perlu dihidupkan, diluar penulisan sejarah dari yang berkuasa. Salut, pak.
javaman63 wrote on Apr 25, '07
Nice story pak Sarwono...justru org jadul banyakan pemikirannya lebih down to earth, karena memang mengalami peristiwa2 bersejarah, drpd org yg merasa modern tapi cuma bisanya talk only....iya nda pak??
accessgranted wrote on Apr 25, '07
Kayaknya sama juga dengan jaman sekarang pak, cuma bedanya ga dirumah, tapi di hotel berbintang, ga pake tiker, ga bawa bahan makan sendiri, udah ada yg ngebawain. Level keikhlasan yang berbeda, dulu orang2 jaman pergerakan masih memikirkan dan memperjuangkan kepentingan orang banyak, sekarang keikhlasan mereka karena sesuatu. Saya ga tau apakah tepat menggunakan kata "keikhlasan" ini. But anyway: Salut buat bapak.
berajasenja wrote on Apr 25, '07
teman-teman seangkatan saya bnyk tuh yg kos di daerah sentiong saat mrk kuliah dan kerja awal-awal, bahkan diantara mrk ada yg jd aktivis sampe sekarang
mm..., apakah gang sentiong itu = "gang pergerakan" ya pak?
tetep semangat pak!
va2212 wrote on Apr 25, '07
Pak, keliatannya klo dari cerita bapak, yang diskusi di rumah bapak itu gak cuma berasal dari 1partai atau 1organisasi... tapi suasana tetap hangat dan menyenangkan, mungkin karenamempunyai tujuan yang sama ya pak..... Tapi klo sekarang pak, apa mungkin ya berkumpul dengan suasana seperti itu ya pak.....

Abis keliatannya para Bapak2 dan Ibu2 di atas sana, para "Wakil Rakyat" (Katanya......) yang selalu memperjuangkan nasib rakyat (Katanya....), pada high tempra, sindrom popularitas, cari gratisan mulu,...... udah ah......

Pak, semoga Bapak tetap menjadi Bapak yang sekarang ya... dan pse Pak... dont ever be a coruptor....
lilianabaskorowati wrote on Apr 25, '07
Cerita yang sangat menarik... saya terkesan sekali krn rumah tsb bisa tempat diskusi oleh berbagai golongan bagaimana ya kok mrk tidak sampai berantem... Karena saya juga tumbuh dilingkungan organisatoris, meskipun hampir setiap minggu ada perkumpulan dirumah kami hanya melulu dari pihak ayah atau ibu yang seorganisasi... hiks.. sedih ya...
firrywahid wrote on Apr 26, '07
Cerita yang amat menarik...

Ayah saya juga pernah bercerita kalau rumah eyang saya di Jl. Taman Amir Hamzah no. 8 Matraman juga sekali2 dijadikan tempat diskusi... Terutama ketika zaman G 30 S/PKI... Semoga semangat berargumen dalam persaudaraan bisa tetap selalu kami, para generasi muda, teruskan...

Sekali lagi, saya mengucapkan selamat atas pencalonan bapak sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari PKB dan PAN, semoga Jakarta bisa mendapatkan kesempatan dipimpin oleh seorang Sarwono Kusumaatmadja... Amieen..

-Firrywahid-
kunthi wrote on Apr 27, '07, edited on Apr 27, '07
Jadi ingat bapak pernah cerita ini waktu ngumpul-ngumpul sebelum pemilihan anggota DPD di Posko SK dekat Blok S tahun 2004 dulu. Trus di Megamendung juga. Selamat ya atas pencalonan Bapak sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Semoga Jakarta cukup beruntung bisa dipimpin seorang Sarwono. :)
loetfie wrote on Apr 30, '07
Salut buat orang2 dahulu yang tulus melakukan pergerakan buat kemajuna bangsa tanpa embel2 apapun...
yang menyedihkan sekarang ini Pak...Orang pada berjuang dengan pamrih masing2...
Sungguh menyedihkan...
zgibbons wrote on May 6, '07
pak, saya juga dulu tinggal di Gg Sentiang dan sekolahnya di Kampung Enclek dan saya bangga bisa kerja di antara dan sekarang menghabiskan sisa hidup saya diperantauan di negeri seberang untuk mencari ridho Allah, selamat berjuang bapak perjalanan demokrasi masih panjanggggggggggg
lysthano wrote on May 10, '07
halo pak sarwono, sukses selalu sebagai tokoh yang kritis. Jika kesempatan menjadi gubernur, titip pesan:) gimana caranya Jakarta jadi nyaman, tidak macet dan aman. salam

lysthano
aimee80 wrote on May 31, '07
salam kenal pak sarwono,adik ayah saya jg rumahnya di kramat sentiong no 55,namanya pak soemarjito (alm) tinggal disitu dr tahun 70-an.
kalipaksi wrote on Jun 7, '07
jiwa pergerakan mmg sudah luntur.... Kapan ya org2 kita bisa punya jiwa yg tulus dan tanpa pamrih seperti dulu lagi....?
januarisaraswati wrote on Jun 9, '07
orang pergerakan, "orang republik". :) pak SK, jangan pernah padam semangat walaupun dikadali partai2 saat pencalonan pilgub DKI, yang penting rakyat tahu pak SK lah senyata-nyata "orang republik". Keep on the Fighting Spirit.
pangka wrote on Jun 11, '07
Betapa indahnya Indonesiaku dulu....
sarwonokusumaatmadja wrote on Jun 14, '07
Indonesia masih tetap indah, dan masih bisa dibuat lebih indah lagi. Selama kita optimis dan teguh terhadap nilai-nilai yang kita pegang. Saya yakin semua orang masih memiliki jiwa yang tulus, dan semua hal dimulai dari diri sendiri. Yuk kita sama-sama bikin Indonesia, Jakarta khususnya, menjadi tempat yang indah dan lebih baik lagi.
jemix wrote on Jul 9, '07
"dan masih bisa dibuat lebih indah lagi." amien....
trulykaruntu wrote on Sep 5, '07
Oh Indonesiaku....lain dulu lain sekarang... Mari kita bangun bersama untuk tidak saja menjadi Indah tapi juga aman....
Terima kasih Pak sudah berbagi cerita yang menarik ini, Wassalam.... *_*
radjaibrahim wrote on Oct 4, '07
Keakraban jaman dulu kadang tidak bisa sama seperti sekarang Pak. Orang tua saya juga pernah cerita seperti yang bapak lukiskan. Betapa kebersamaan sangat kental sehingga mengurangi beban penderitaan hidup. Sementara sekarang kita masih bisa kumpul tapi media komunikasi telah menggantikannya. Akhirnya sekarang tidak sehangat dahulu.
sudarjanto wrote on Oct 28, '07, edited on Oct 28, '07
sekolah rendah mungkin yang dimaksud mungkin sekolah rakyat (SR) yang sekarang jadi SD,saya juga heran ya Bung kenapa politikus sekarang ini selalu main otot dan bukan otak,padahal mereka ratarata sudah sarjana,apakah ini disebabkan karena mereka sebenarnya buta politik? karena selama jaman orba dulu kita tidak boleh membaca bukubuku politik,sehingga penafsiran politik juga berbeda yaitu sekedar untuk mencari keuntungan pribadi. Semakin diri saya tua semakin prihatin saya karena hilangnya rasa nasionalisme bangsa kita.
auliaepriya wrote on Oct 31, '07
salam perjuangan, semoga jiwa pejuang bisa terus tetap terjaga.
sbaskoro wrote on Nov 2, '07
Pak Sarwono, saya jadi ingat ketika dulu anda mempopulerkan "pengawasan melekat" di masa anda menjabat Menteri Negara PAN. Banyak orang mencibir 'waskat' tersebut. Seandainya 'waskat' itu dijalankan sebagaimana mestinya, korupsi tidak akan meraja-lela seperi saat ini. Ada program yang membumi untuk membuat Indonesia lebih indah? Salam ...
sheravim wrote on Nov 19, '07
Walau perdebatannya sengit, suasananya tetap ramah dan hangat. Kesungguhan mempertahankan pendirian bercampur dengan canda tawa. Suasana terbuka dan saling menghargai tetap mewarnai perdebatan antara mereka yang bukanlah orang-orang petinggi partai tapi tingkat akar rumput.
masihkah sama dengan keadaan sekarang, pak? saya suka sekali membaca tulisan ini.
manadoe wrote on Feb 19
Membaca tulisan bapak sungguh mengharukan,namun keharuan tak mampu merobah situasi,...seperti istilah yang bapak telorkan sehingga perawan SCTV itu terbuang ke UK dengan alasan mengejar S2 padahal gara-gara SAKIT GIGI yang seharusnya dicabut,tapi.....sakit gigi berobah jadi cancer yang bergerak seperti istilah orang orang senayan kepada bapak,...tapi saya bangga ternyata negeri kita butuh orang orang seperti bapak. Bravo tulisan bapak menjadi inspirasi saya.
mataharitimoer wrote on Feb 24
Tetapi, jangan kaget, ada pula yang seluruh hidupnya dicurahkan pada kehidupan gerakan.Mereka dihormati bukan karena pangkat dan kedudukannya tetapi pada hal-hal di luar kepentingan pribadi maupun keluarganya.
saya tidak kaget dengan pernyataan bapak. memang ada orang2 pergerakan yang seperti ini. Tetapi, jangan kaget, jika ternyata banyak juga orang2 pergerakan yang hanya memanfaatkan pertemanan underground mereka hanya untuk mencari makan, membiayai anak istri, dan refill pulsa atas biaya operasional. Orang2 seperti itu pernah saya temukan sejak 1989 hingga kini, di pergerakan yang berbeda.
Kalau orang jaman dulu, (baca: pergerakan jaman orang tua kita, lah) aktivitas mereka lebih dipengaruhi 80% karena idealisme. Tapi jaman kini, saya nggak mampu melihat idealisme dan kejujuran bahwa orang2 pergerakan berniat membela rakyat.
Sayang sekali, jika jaman kini, jiwa-jiwa para penggerak, sedikit-sedikit lenyap, menguap ke belantara materialisme.
solidaritasindonesia wrote on Apr 23
Salut Senior!
Tetap Semangat!
Salam Solidaritas!
tjutfidelia wrote on Apr 29
Pasti seru ya Pak! bisa berdiskusi bebas dan berdebat damai.
Menghargai kedalaman pikiran masing2 dan terus saling membantu.
Menyingkirkan ego dan berpikir utk kemajuan bersama...
Hmmm... suasana yang indah...

clayaban wrote on Jun 6
pengalaman bapak dapat ditularkan ke saya nggak....? kalau virusnya seperti cerita di atas saya rela bersakit-sakit......salam kenal ya pak dari anak betawi yang rindu pergerakan.....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help